Jenis-jenis obligasi meliputi obligasi pemerintah, korporasi, dan syariah. Artikel ini membahas perbedaan jenis-jenis obligasi yang beredar di pasar, imbal hasil, dan risikonya.
Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan sebagai cara untuk memperoleh pendanaan. Surat utang ini punya jangka menengah hingga panjang sehingga cocok jadi instrumen investasi.
Ketika membeli obligasi, kamu pada dasarnya meminjamkan dana kepada penerbit, dan sebagai imbalannya kamu berhak menerima kupon atau imbal hasil secara berkala, serta pengembalian pokok investasi pada saat jatuh tempo.
Baca juga: 8 Perbedaan Saham dan Obligasi, Ini yang Paling Untung!
Jenis-jenis Obligasi
Secara umum obligasi dibagi dalam beberapa jenis berdasarkan kupon, pihak penerbit, dan berdasarkan ketentuan syariah. Berikut beberapa jenis obligasi yang bisa kamu beli.
1. Obligasi Pemerintah
Obligasi ini diterbitkan oleh pemerintah sebagai instrumen pembiayaan negara. Karakter utamanya adalah tingkat risiko yang sangat rendah karena pembayaran pokok dan imbal hasil dijamin oleh negara.
Dari sisi return, obligasi pemerintah biasanya lebih stabil namun relatif lebih rendah dibanding obligasi korporasi, sehingga cocok untuk investor konservatif yang mengutamakan keamanan.
2. Obligasi Korporasi
Jenis obligasi ini diterbitkan oleh perusahaan untuk mendapatkan pendanaan. Dibanding obligasi pemerintah, potensi imbal hasil obligasi korporasi lebih tinggi karena risikonya juga lebih besar.
Namun imbal hasil ini bergantung pada kinerja dan kondisi keuangan perusahaan penerbit. Obligasi korporasi lebih cocok bagi investor yang siap menerima fluktuasi demi return yang lebih menarik.
3. Obligasi Konvensional
Jenis obligasi konvensional menggunakan sistem bunga atau kupon sebagai imbal hasil bagi investor. Kupon dibayarkan secara berkala hingga jatuh tempo.
Dibanding obligasi syariah, mekanismenya lebih sederhana dan umum digunakan, namun tidak cocok bagi investor yang menghindari unsur riba.
4. Obligasi Syariah (Sukuk)
Sukuk tidak menggunakan sistem bunga, melainkan berbasis akad syariah seperti ijarah atau mudharabah. Imbal hasil berasal dari bagi hasil atau sewa aset.
Dari sisi risiko dan return, sukuk relatif sebanding dengan obligasi konvensional, namun secara struktur lebih sesuai bagi investor yang memperhatikan prinsip syariah.
Baca juga: Kenali Apa Itu Obligasi Konversi, Jenis, dan Contohnya
5. Obligasi Fixed Rate (Kupon Tetap)
Obligasi fixed rate memberikan kupon dengan persentase tetap sepanjang masa investasi. Kelebihannya adalah kepastian arus kas karena investor sudah tahu berapa pendapatan yang diterima secara berkala.
Namun, ketika suku bunga pasar naik, daya tarik obligasi ini bisa menurun dibanding obligasi floating rate.
6. Obligasi Floating Rate (Kupon Mengambang)
Kupon obligasi ini menyesuaikan dengan acuan suku bunga tertentu. Jika suku bunga naik, kupon yang diterima investor juga ikut meningkat.
Dibanding fixed rate, jenis ini lebih fleksibel terhadap perubahan kondisi ekonomi, tapi pendapatannya tidak sepenuhnya pasti.
7. Obligasi Zero Coupon
Obligasi zero coupon tidak memberikan kupon berkala. Keuntungan diperoleh dari selisih harga beli yang lebih rendah dibanding nilai nominal saat jatuh tempo.
Dibanding obligasi berkupon, jenis ini lebih cocok untuk tujuan keuangan jangka menengah atau panjang karena tidak menghasilkan arus kas rutin.
8. Obligasi Ritel
Obligasi ritel ditujukan khusus untuk investor individu dengan nominal pembelian yang relatif terjangkau.
Dibanding obligasi institusi, aksesnya lebih mudah karena bisa dibeli secara online. Dari sisi risiko dan imbal hasil, obligasi ritel, terutama yang diterbitkan pemerintah, cenderung lebih aman dan stabil.
Baca juga: 10 Tips Persiapan Pensiun Sejak Muda agar Hidup Lebih Tenang
Cara Investasi Obligasi
Obligasi pemerintah ditawarkan melalui mitra distribusi seperti bank, perusahaan sekuritas, dan platform investasi digital yang sudah ditunjuk. Penawaran bisa terjadi di pasar perdana saat obligasi pertama kali diterbitkan, lalu bisa diperdagangkan kembali di pasar sekunder.
Sementara, obligasi korporasi umumnya ditawarkan melalui perusahaan sekuritas dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Investor juga bisa membeli obligasi melalui aplikasi investasi yang menyediakan akses ke pasar obligasi.
OCBC merupakan salah satu bank yang menawarkan obligasi, baik pemerintah maupun korporasi. Kamu bisa beli obligasi melalui OCBC mobile.
Sebelum membeli obligasi, pastikan kamu sudah punya Single Investor Identification (SID). Kabar baiknya, kamu juga bisa membuat SID langsung di OCBC mobile, dengan cara sebagai berikut:
- Buka dan login OCBC mobile
- Pilih menu Investasi, klik Obligasi. Jika belum punya SID kamu akan diarahkan untuk membuat terlebih dulu
- Isi data diri dan lengkapi dokumen yang diminta
- Lengkapi profil risiko dengan jawab pertanyaan
- Klik Lanjut, dan SID akan diproses selama 3 hari
Setelah SID jadi, kamu bisa langsung membeli obligasi yang sesuai dengan profil risikomu. Berikut caranya:
- Buka dan login OCBC mobile
- Pilih menu Investasi, klik SBN Ritel
- Klik Pemesanan Obligasi, pilih jenis obligasi yang kamu inginkan
- Baca informasi produk, klik Pesan Sekarang
- Masukkan nominal pemesanan
- Periksa ringkasan, konfirmasi, dan setujui syarat dan ketentuan
- Pemesanan berhasil, tunggu notifikasi berikutnya.
Aplikasi OCBC mobile tidak hanya memudahkan kamu dalam melakukan transaksi harian seperti transfer atau pembayaran saja, melainkan juga membantu meraih #FunanciallyFit dengan pilihan investasi yang lengkap.
Kamu nggak usah khawatir soal keamanan. Pasalnya, transaksi di OCBC mobile juga sudah dijamin keamanannya.
Setiap transaksi dilindungi Two-Factor Authentication (2FA) dengan penggunaan User ID, Password, serta PIN transaksi yang hanya diketahui oleh kamu sebagai pengguna.
Download OCBC mobile sekarang juga untuk menikmati kemudahan transaksi apapun dalam genggaman!
Baca juga: 7 Karakteristik Obligasi yang Perlu Diketahui Investor